Senin, 05 Desember 2016

PASUKAN PEMADAM KEBAKARAN PERTAMA DI DUNIA

Dalam buku yang berjudul Principles of Protection karya Arthur Cote, P.E dan Percy Bugbee dijelaskan, di zaman pemerintahan kaisar Agustus (Gaius Julius Caesar Octavianus) pada 27 SM sampai 12 Masehi, Roma mengembangkan "Departemen kebakaran" untuk tipe penghunian. Dan departemen ini mengorganisir para budak dan warga negara dalam wadah yang bernama Satuan Jaga (pelayanan penjagaan). Selanjutnya, dikeluarkan dekrit yang menyatakan seluruh rakyat wajib menjaga dan mengontrol api.
 
Adapun satuan jaga tersebut merupakan organisasi (pemadam kebakaran) yang pertama. Dibentuknya satuan ini bertujuan untuk melindungi manusia terhadap bahaya kebakaran. Tugas utama mereka adalah melakukan patroli dan pengawasan pada malam hari (dilakukan oleh Nocturnes). 

Dalam perkembangan selanjutnya, setiap anggota pasukan mempunyai tugas khusus bila terjadi kebakaran. Contohnya, beberapa anggota (aquarii) membawa air dalam ember ke lokasi kebakaran. Kemudian, dibangun pipa air (aquaducts) untuk membawa air ke seluruh kota, dan pompa tangan dikembangkan guna membantu penyemprotan air ke api. Siponarii adalah sebutan bagi pengawas pompa, dan komandan pemadam kebakaran dinamakan Praefectus Vigilum yang memikul seluruh tanggung jawab Satuan Siaga.

Sedangkan hukum Romawi mengutus Quarstionarius (sekarang sama dengan Polisi Kebakaran), yang bertugas mengklarifikasi sebab-sebab terjadinya kebakaran. Pemerintah Kerajaan Romawi pada masa itu mulai menentukan kebijakan mengenai penggunaan selang kulit bagi kepentingan pemadaman kebakaran. Petugasnya juga membawa bantal besar ke lokasi kebakaran, sehingga orang yang terjebak di gedung tinggi dapat meloncat dan mendarat di atas bantal tersebut.

Marco Polo mencatat tentang tata negara belahan timur pada abad 13, yakni pasukan rakyat dari pasukan pengawas dan pasukan kebakaran yang mempunyai tugas pencegahan kebakaran telah terbentuk di Hangchow. 

Mereka dalam melaksanakan tugasnya dapat mengerahkan satu sampai dua ribu orang untuk memadamkan api. Ribuan pasukan itu dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari 10 orang, 5 orang berjaga pada siang, dan selebihnya berjaga pada malam hari.

Sumber: Peutrang.blogspot
@WidyaBhaktiSingkawang
#kamiselalusiagasatu

Minggu, 04 Desember 2016

Asal Mula Berdirinya Pasukan Pemadam Kebakaran di Indonesia

Asal mula berdirinya pasukan pemadam kebakaran di Indonesia

Pemadam Kebakaran atau Branwir

Barisan Pemadam Kebakaran atau Branwir adalah Pasukan Pemadam Kebakaran. Kata Branwir berasal dari Bahasa Belanda Brandweer.

Sejarah Brandweer di Hindia Belanda

Sejarah Branwir bermula pada tahun 1873, di mana terjadi kebakaran besar di Kramat-Kwitang, dan residen (sekarang Gubernur DKI Jakarta) mengeluarkan peraturan (reglemet) pada tahun 1915 dengan nama Reglement op de Brandweer in de Afdeeling stad Vorsteden van Batavia. Sekarang menjadi Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta

Sumber: wikipedia

@WidyaBhaktiSingkawang
#kamiselalusiagasatu

Sabtu, 03 Desember 2016

Hari Pemadam Kebakaran Internasional

     Setiap pekerjaan tentu memiliki risikonya masing-masing. Begitu pula dengan petugas pemadam kebakaran. Setiap harinya, petugas pemadam kebakaran mendedikasikan dirinya untuk menyelamatkan nyawa atau properti dari kobaran api. Bekerja dalam industri ini tentu memerlukan pengorbanan yang besar.

     Untuk itu, setiap tanggal 4 Mei didedikasikan untuk memperingati Hari Pemadam Kebakaran Internasional.

     Selain itu, di Hari Pemadam Kebakaran Internasional dijadikan waktu yang tepat untuk mengenang petugas-petugas yang gugur dalam tugasnya. Hal ini lah yang mendasari JJ Edmondson, Liutenant Pemadam Kebakaran di Victoria, Australia, untuk mengorganisasi hari ini.

     Pada tahun 2002 hari ini mulai diperingati dengan ‘Sound Off’ – membunyikan sirine selama tiga puluh detik yang diikuti dengan mengheningkan cipta untuk mengenang petugas pemadam kebakaran. Kesuksesaan dari Sound Off di 2002 menginspirasi untuk dijadikan cara peringatan setiap tahunnya.

     Selain melakukan Sound Off, kita bisa ikut memperingati hari ini dengan menggunakan pita hari pemadam kebakaran internasional. Tunjukkan rasa terima kasih dengan pita berwarna biru dan merah yang merupakan simbol dari merah untuk api dan biru untuk air.

     Tidak ada salahnya kan untuk menghargai pengorbanan orang lain? Kita juga bisa menunjukkan rasa terima kasih kepada petugas pemadam kebakaran di sekitar atau kita bisa membuat karya untuk memperkenalkan peran pemadam kebakaran ke masyarakat.

     Di Indonesia sendiri, masih jarang orang yang menyadari pentingnya pekerjaan seseorang terhadap hidup kita. Jadi yuk bagikan informasi ini agar semakin banyak yang mengenal pentingnya petugas pemadam kebakaran di masyarakat.

@WidyaBhaktiSingkawang
#kamiselalusiagasatu

Penulis:

Nabilah Rahmagitha
Sumber: liputan6.com

Jumat, 02 Desember 2016

Suka Duka Pemadam Kebakaran

     Menjadi petugas pemadam kebakaran lebih banyak duka dibandingkan sukanya.Inilah yang dirasakan kami.Tak jarang petugas dicaci maki,karena dinilai terlambat datang kelokasi kebakaran.
     Jadi,kami harus memiliki kesabaran tingkat dewa.Kenpa?Karena kalau tidak,setiap saat kami akan bentrok dengan masyarakat.Saat dilapangan,kami semua mempunyai beban dan tanggung jawab yang berat.Dengan begitu,kami semua harus bisa mengendalikan emosi kami.
     Disaat semua terlelap dalam tidur,ada panggilan bertugas kami semua harus bergerak cepat.Karena yang namanya api ga bisa menunggu kita.Telat sedikit,api akan merembet kemana-mana.
     Disaat api bisa ditaklukkan kami merasa puas sekali.Dan ini merupakan kepuasan tersendiri bagi kami.Resiko yang kami hadapi besar sekali.Dengan alat pelindung yang seadaanya kami berusaha untuk melindungi diri sendiri.
     Walaupun kami bukan profesional,tapi kami berusaha untuk profesional.Kami tidak pernah dilatih seperti pemadam kebakaran dikota-kota besar.

     Salam:
     @WidyaBhaktiSingkawang
     #kamiselalusiagasatu